Jumat, 13 Januari 2012

Perkembangan Peradaban Islam pada Masa Kerajaan Safawi

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN SAFAWI

A. Masa Berdirinya Pemerintahan kerajaan Safawi

1. Masa Kepemimpinan Safi

Ketika kerajaan Usmani sudah mencapai puncak kemajuannya. Kerajaan Safawi dan Persia baru berdiri. Kerajaan ini tumbuh dengan cepat dalam perkembangannya, kerajaan safawi sering bentrok dengan Turki Usmani.

Berbeda dengan dua kerajaan Islam lainnya ( Usmani dan Mughal ) Kerajaan Safawi menyatakan, Syiah sebagai mazhab Negara. Sehingga kerajaan ini dianggap sebagai pelekat pertama dasar terbentuknya negara Iran saat ini.

Kerajaan Safawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabil. Sebuah kota di Azerbaijan.1 Tarekat ini diberi nama tarekat Safawiyah, didirikan pada waktu yang hampir bersama dengan berdirinya kerajaan Usmani. Nama safawiyah, diambil dari nama pendirinya, Safi Al-Din ( 1252-1334 M ) dan nama Safawi itu terus dipertahankan sampai menjadi gerakan politik. Safi Al-Din memiliki sufi sebagai jalan hidupnya. Karena prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Al-Din dijadikan menantu oleh gurunya Taj Al-Din ibrahim Zahidi ( 1216-1301 M)2.

Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru dan sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1361 M. Pengikut tarekat ini sangat teguh pada ajaran agamanya. Pada awalnya gerakan Safawiyah yang bertujuan memerangi orang – orang yang ingkar, kemudian memerangi golongan ahli – ahli bid’ah. Bentuk tarekat itu dari pengajian Tasawuf murni yang bersifat lokal menjadi gerakan keagamaan yang besar pengaruhnya di Persia, Syiria, dan Andalusia.

2. Kepemimpinan Juneid ( 1447-1460 M )

Pada masa pemerintahannya lebih cenderung ke dunia politik. Dinasti Safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan ini menimbulkan konflik antara Juneid dan Kara Koyunlo (domba Hitam), Juneid kalah dan diasingkan kesuatu tempat. Ditempat baru ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK-Koyunlu (Domba Putih). Akhirnya dia tinggal di istana Uzun Hasan yang ketika itu menguasai Persia. Pada masa diasingkan, Juneid menikah dan mempunyai anak yang bernama Haidar. Ia juga tidak tinggal diam tetapi justru menyusun kekuatan yang besar. Dengan bekerjasama secara politik dengan Uzun Hasan. Dan berhasil mempersunting salah seorang saudari permpuan Uzun Hasan. Pada tahun 1459 M Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460 M ia mencoba merebut Sircassia tetapi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh pasukan Sirwan, ia terbunuh dalam pertempuran tersebut.[1]

3. Kepemimpinan Haidar

Kepemimpinan gerakan Safawi diserahkan kepada Haidar pada tahun 1470 M. Sementara itu hubungan Haidar dan Uzun Hasan semakin erat dengan menikahnya Haidar dengan putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini lahirlah Ismail yang dikemudian hari menjadi pendiri kerajaan Safawi di Persia. Kemenangan AK Koyunlu tahun 1476 M terhadap Kara Koyunlu membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya. Padahal sebagaimana disebutkan, Safawi adalah sekutu AK Koyunlu. AK Koyunlu mencoba melenyapkan kekuasaan militer dan Dinasti Safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Koyunlu mengirimkan bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.

Ali, putera dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentaranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Koyunlu. Tetapi Ya’kub memimpin AK Koyunlu dapat menangkap dan memenjarakan Ali dan saudaranya, Ibrahim, Ismail dan ibunya, di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putera mahkota AK Koyunlu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. Setelah saudara sepupunya dapat dikalahkan, Ali bersaudara kembali ke Ardabil. Akan tetapi, tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara, dan Ali terbunuh dalam serangan itu.

4. Kepemimpin Ismail

Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail yang saat itu berusia tujuh tahun. Selam lima belas tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan. Mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Syiria, dan Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu bernama Qizilbash ( baret merah ).

Di bawah pimpinan Ismail, tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Koyunlu di Sharur, dekat Nakhchivan. Dikota ini Ismail memproklamirkan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi, dan dia disebut dengan ismail I.

Ismail I berkuasa kurang lebih 23 tahun ( 1501- 1524 M ). Pada sepuluh tahun pertama Ia berhasil memperluas kekuasaannya. Hanya dalam sepuluh tahun wilayahnya meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur ( fortile Crescent ).[2]

Tidak sampai disitu, ambisi politik mendorongnya untuk terus mengembangkan sayap menguasai daerah-daerah lainnya,seperti ke Turki Usmani. Namun Ismail bukan hanya menghadapi musuh yang sangat kuat, tetapi juga sangat membenci Syiah. Peperangan dengan Turki Usmani terjadi pada tahun 1514 M di Chaldiran, dekat Tarbiz. Karena keunggulan organisasi militer kerajaan Turki Usmani, dalam perang ini Ismail I mengalami kekalahan, malah Turki Usmani dibawah pimpinan Sultan Salim dapat menduduki Tabriz.

Kekelahan tersebut meruntuhkan kepercayaan diri dan kebanggaan Ismail I. kehidupan Ismail berubah. Ia lebih senang menyendiri, hura-hura dan berburu. Keadaan ini menimbulkan dampak negatif bagi kerajaan Safawi, yaitu terjadinya persaingan segitiga antara pemimpin suku-suku Turki, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbash dalam merebut pengaruh untuk memimpin kerajaan Safawi.

Kondisi memprihatinkan ini baru bisa diatasi setelah raja kelima, Abbas I naik tahta. Ia memerintah pada tahun 1588 M sampai dengan 1628 M. Usaha-usaha yang dilakukan Abbas I tersebut berhasil membuat kerajaan Safawi kuat kembali.

  1. Masa Kejayaan Kerajaan Safawi

Masa kekuasaan Abbas I merupakan puncak kerajaan safawiyah. Kemajuan-kemajuan yang dicapai antara lain sebagai berikut;

  1. Bidang Politik

Abbas 1 mampu mengatasi berbagai kemelut didalam negeri yang menganggu stabilitas negara dan berhasil merebut kembali wilayah-wilayah yang pernah direbut oleh kerajaan lain pada masa kerajaan-kerajaan sebelumnya.

  1. Bidang Ekonomi

Stabilitas politik kerajaan Safawi pada masa Abass 1 ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Dengan dikuasainya bandar ini maka salah satu jalur dagang laut antara timur dan barat yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis sepenuhnya menjadi milik kerajaan Safawi.

Di samping sektor perdagangan, kerajaan ini juga mengalami kemajuan terutama didaerah Bulan Sabit Subur.

  1. Bidang Ilmu Pengetahuan

Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi dan berjasa mengembangkan ilmu pengetahuan.Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa kerajaan ini tradisi keilmuan ini terus berlanjut.

Ada beberapa ilmuan yang selalu hadir di majlis Istana, yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi, generalis ilmu pengetahuan, Sadar Al-Din Al-Syaerazi, filosof, dan Muhammad Baqir Ibn Muhammad Damad, filosoft, ahli sejarah, teolog, dan seorang yang pernah mengadakan observasi mengenai kehidupan lebah-lebah. Dalam bidang ini, kerajaan ini mungkin dapat dikatakan lebih berhasil dari dua kerajaan besar Islam lainnya pada masa yang sama.

  1. Bidang Perkembangan Fisik dan Seni

Para penguasa kerajaan ini telah berhasil menciptakan Isfahan, ibu kota kerajaan, menjadi kota yang sangat indah. Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat pada masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan masjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula dalam bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenun, tembikar dan benda seni lainnya.

Demikianlah puncak kemajuan yang dicapai oleh kerajaan Syafawi. Setelah itu kerajaan ini mulai mengalami gerak menurun. Kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang disegani oleh lawan-lawannya, terutama dalam bidang politik. Walaupun tidak setaraf dengan kemajuan Islam dimasa klasik, kerajaan ini telah memberikan kontribusinya mengisi peradaban Islam melalui kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, peninggalan seni dan gedung-gedung bersejarah.[3]



1 P.M. Holt, dkk ( ed ), The CambridgeHistori of Islam, V01. IA, ( London : Cambridge University Press, 1970 ), hlm. 394.

2 Allouche, The Origius and derelopment of the Ottoman. Savafit Contsict, ( Michigan , Univerity, Microficms, International, 1985), hlm 96.

[1] Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyyah II,(Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada,2000,cetakan kesepuluh), hlm.140.

[2] Ibid.,hlm.141.

[3] Ibid.,hlm.145.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar